Media Informasi, Kreasi, dan Hiburan

Bastian Tito  (1945 – 2006)

bastianBastian Tito merupakan salah satu penulis cerita silat, seniman, dan penulis novel Indonesia. Bastian Tito dilahirkan pada tanggal 23 Agustus 1945 dan meninggal dunia tanggal 2 Januari 2006. Salah satu karangan cerita silat hasil karya beliau yang dikenal masyarakat luas dan kemudian diangkat ke layar kaca (sinetron) adalah ‘Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212’. Selain cerita silat, karya beliau yang lain yaitu ‘Kupu-kupu Giok Ngarai Sianok’, sebuah cerita silat yang mengambil setting budaya Minangkabau, serta ‘Boma si Pendekar Cilik’.
Disamping menulis cerita silat dan fiksi bernuansa etnis, Bastian Tito juga dikenal sebagai penulis spesialis novel bernuansa humor. Beliau sudah gemar menulis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3, namun baru pada tahun 1964-lah beliau mulai mengumpulkan hasil karyanya dalam bentuk buku. Penulisan cerita silat ‘Wiro Sableng’ beliau lakukan sejak tahun 1967. Serial Wiro Sableng berhasil mencapai 2 kali orbit, tepatnya tahun 1989 dan 1994. Buku yang orbit kembali merupakan buku terbitan lama tapi dicetak kembali dan laris di tahun 90-an.

Sebagai salah satu penggemar cerita silat Wiro Sableng si Pendekar 212, saya hanya ingin membagi koleksi yang saya dapat dari berbagai sumber di internet. Bagi para penggemar yang ingin membaca kembali cerita-cerita silat karya Bastian Tito dapat mengunduh dari situs ini.  [Link Download]

Dalam menampilkan cerita silat karya Bastian Tito ini, tidak ada tujuan membajak atau pemalsuan hak cipta, semata-mata hanya ingin membagi koleksi saya khusus untuk para penggemar Wiro Sableng dimanapun berada.
Tidak Lupa saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Alm. Bastian Tito yang telah menghasilkan karya yang sampai saat ini masih banyak digemari oleh masyarakat Indonesia.

Salam 212

[ diambil dari berbagai sumber ]

KhoPingHooBiografi Kho Ping Hoo

Dia legenda pengarang cerita silat. Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa. Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan.
Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.
Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan, disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih terus dicetak.
Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri.
Penggemar cerita silat Kho Ping Hoo sangat banyak yang setia. Mereka sudah gemar membaca karya Kho Ping Hoo sejak usia 10-an tahun hingga usia di atas 50-an tahun. Mula-mula mereka senang melihat gambar komiknya. Namun, lama-lama makin tertarik cerita tulisannya. Tak jarang penggemar mengoleksi karya-karya Kho Ping Hoo, bahkan mencarinya ke bursa buku bekas di kawasan Senen.
Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis. Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya.
Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya. Sehingga dia terbilang sangat mahir dalam gerak dan pencak, juga makna filosofi dari tiap gerakan silat itu.
Karya cerira silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris. Hal itu membuat kreatifitasnya makin terpicu. Karya-karyanya pun mengalir deras. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita silatnya.
Kepopulerannya makin memuncak manakala merilis serial silat terpanjangnya Kisah Keluarga Pulau Es, yang mencapai 17 judul cerita, dimulai dari kisah Bu Kek Siansu sampai Pusaka Pulau Es. Karya serial berlatar Jawa, yang juga terbilang melegenda antara lain : Perawan Lembah Wilis, Darah Mengalir di Borobudur, dan Badai Laut Selatan. Bahkan Darah Mengalir di Borobudur, pernah disandiwararadiokan.
Namun, pada akhirnya Ping Hoo harus berhenti berkarya. Pada Jumat, 22 Juli 1994, serangan jantung telah membawanya menghadap Sang Pencipta secara tiba-tiba.

[ Download Karya Kho Ping Hoo ]